TMMD

Di Bawah Genteng Harapan, Dialog Sunyi yang Menguatkan Rumah Rakyat

Kebumen — Pagi di Desa Somagede mengalir pelan, seolah memberi ruang bagi sebuah kisah untuk tumbuh. Di halaman rumah yang masih setengah jadi milik Bapak Ratman, tumpukan genteng tersusun rapi, menunggu waktunya menjadi pelindung dari panas dan hujan, Jumat 27 Februari 2026.

Langkah Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., memecah hening pagi itu. Sepatu dinasnya berhenti tepat di dekat tumpukan genteng. Ia tidak langsung bicara. Matanya lebih dulu bekerja, menilai, menimbang, memastikan.

Beliau berjongkok perlahan, mengambil satu keping genteng. Jemarinya mengetuk pelan.
“Ini yang akan dipasang di atap rumah, Pak Ratman?” tanyanya lembut.

Bapak Ratman mengangguk cepat.
“Iya, Komandan… kami berharap yang terbaik untuk rumah ini,” jawabnya lirih, ada getar yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Dandim menatap genteng itu sekali lagi, lalu mengusap permukaannya seakan sedang membaca masa depan sebuah keluarga.

“Kita pastikan yang dipakai benar-benar berkualitas. Rumah ini harus kuat… supaya Bapak dan keluarga bisa tinggal dengan tenang,” ucapnya mantap. Kalimat itu sederhana, namun jatuhnya seperti hujan pertama di musim kemarau.

Mata Bapak Ratman mulai berkaca. Ia menarik napas panjang, seolah beban yang lama dipikul perlahan menemukan tempat bersandar. “Terima kasih, Komandan… kami tidak menyangka sampai diperhatikan sedetail ini,” katanya pelan.

Dandim berdiri, lalu menatap bangunan yang sedang tumbuh itu—dinding yang mulai tegak, rangka atap yang siap menantang langit. Ia kemudian melangkah menyusuri lokasi, mengecek progres pekerjaan, berdialog singkat dengan anggota di lapangan, memastikan waktu pembangunan tetap berada di jalurnya.
Bagi beliau, TMMD bukan sekadar pekerjaan selesai cepat. Ini tentang kehormatan menepati janji kepada rakyat.

Di sekitar mereka, suara palu berdentang seperti detak jantung harapan. Debu tipis beterbangan, namun di mata keluarga Bapak Ratman, yang terlihat justru masa depan yang mulai terang. Sebelum beranjak, Dandim kembali menoleh.

“Bapak sabar ya. Kita kawal sampai rumah ini benar-benar siap ditempati,” ujarnya hangat. Bapak Ratman hanya bisa mengangguk, bibirnya bergetar menahan haru.

Di Desa Somagede pagi itu, genteng-genteng masih menunggu untuk dipasang. Namun satu hal sudah lebih dulu terpasang kokoh—keyakinan bahwa rumah ini tidak dibangun seadanya.

Ia dijaga.
Ia diawasi.
Ia dibangun dengan hati.
Dan di bawah langit Somagede, harapan keluarga kecil itu kini tidak lagi rapuh, ia mulai mengeras, seteguh genteng yang sebentar lagi akan menaungi kehidupan baru mereka. (Taufik Hidayat)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top