TMMD

Di Atas Hamparan Beton, Gotong Royong Menyulam Harapan Desa

Kebumen — Pagi itu di Desa Somagede belum sepenuhnya panas. Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika deru molen dan denting cangkul mulai memecah sunyi. Di antara barisan prajurit Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, tampak sosok warga dengan wajah berseri: Suraji.

Dengan celana digulung dan tangan berbalut semen, Suraji melangkah ringan seolah lelah tak pernah singgah di pundaknya. Baginya, rabat beton yang tengah dikerjakan bukan sekadar jalan desa—melainkan jalan harapan.

“Kalau bukan kita yang bantu, siapa lagi, Pak?” ujarnya sambil tersenyum kepada salah satu anggota Satgas, napasnya sedikit memburu namun semangatnya tetap utuh.

Pagi di Somagede pun berubah menjadi panggung gotong royong. Prajurit dan warga menyatu tanpa sekat. Sekop berayun, ember berpindah tangan, dan adukan semen mengalir seperti tekad yang tak ingin berhenti.

Suraji tak pernah jauh dari titik pekerjaan. Sesekali ia menyeka keringat dengan ujung lengan, lalu kembali meratakan cor dengan penuh ketelitian, seolah ia sedang menata masa depan desanya sendiri.

“Capek, Pak?” goda seorang prajurit.
Suraji terkekeh kecil. “Capek itu pasti… tapi senangnya lebih banyak,” jawabnya ringan.

Di bawah komando Dansatgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., semangat kebersamaan memang menjadi ruh utama kegiatan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan TMMD bukan hanya diukur dari panjang jalan yang terbangun, tetapi dari kuatnya ikatan antara TNI dan rakyat.

“TMMD adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kehadiran warga seperti Pak Suraji menjadi energi besar bagi kami untuk menuntaskan pekerjaan ini,” ungkapnya. Matahari kian meninggi, panas mulai menekan, namun langkah di lokasi rabat beton tak juga melambat. Di sana, Suraji masih setia. Tangannya mungkin penuh semen, tapi hatinya penuh kebanggaan.

Di Desa Somagede, hari itu bukan sekadar hari kerja bakti. Ia menjelma menjadi kisah tentang kebersamaan—tentang bagaimana jalan beton dibangun bukan hanya dengan campuran pasir dan semen, tetapi juga dengan tawa, peluh, dan cinta pada kampung halaman.

Dan di antara semua itu, senyum Suraji terus merekah… menjadi tanda bahwa gotong royong masih hidup dan berdenyut kuat di bumi pertiwi.
(Taufik Hidayat)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top