KEBUMEN — Pagi di Desa Somagede, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Sabtu (28/02/2026), turun dengan teduh yang menenangkan. Kabut tipis masih menggantung di atas pematang, ketika suasana Pos Komando Taktis (Poskotis) TMMD perlahan berubah riuh oleh langkah-langkah kecil yang berlarian mendekat.
“Pak Tentara… kami boleh main di sini?”
Suara polos itu memecah pagi.
Seorang prajurit yang tengah merapikan perlengkapan menoleh, lalu tersenyum lebar. “Boleh sekali. Tapi siapa yang paling berani di sini?” godanya hangat.
Sekejap, gelak tawa pecah. Anak-anak SD itu saling dorong maju, pipi mereka merona oleh semangat yang sederhana. Poskotis yang biasanya lekat dengan ritme komando, pagi itu berubah menjadi ruang penuh canda.
Prajurit Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen pun sejenak menanggalkan kesibukan. Ada yang jongkok menyamai tinggi anak-anak, ada yang mengajak tepuk semangat, ada pula yang sabar mendengarkan cerita polos tentang cita-cita.
“Kalau besar nanti mau jadi apa?” tanya seorang prajurit lembut.
“Mau jadi tentara… biar bisa bantu desa,” jawab seorang anak mantap, disambut tawa bangga di sekelilingnya.
Di momen-momen kecil itulah, kehangatan terasa begitu nyata. Tak ada sekat antara loreng dan seragam sekolah. Yang hadir hanya kedekatan yang tumbuh alami—seperti keluarga yang lama tak bersua.
Bagi Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, selaku Dansatgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, pemandangan itu bukan sekadar selingan di tengah padatnya program pembangunan.
“Melihat tawa anak-anak adalah energi moral bagi kami. Mereka adalah masa depan yang harus dijaga. Karena itu, TNI harus selalu hadir—bukan hanya membangun fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa aman dan harapan,” tuturnya penuh makna.
Warga sekitar yang menyaksikan dari kejauhan tampak tersenyum haru. Kehadiran Satgas TMMD ternyata tidak hanya meninggalkan jejak beton dan pembangunan, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman yang sulit diukur angka.
Menjelang siang, satu per satu anak mulai pamit.
“Besok kami main lagi ya, Pak…”
“Siap. Tapi jangan lupa belajar yang rajin,” jawab prajurit sambil mengacungkan jempol.
Tawa kecil itu pun perlahan menjauh, menyisakan hangat yang masih tinggal di Poskotis Somagede. Di tempat sederhana itu, pengabdian menemukan wajahnya yang paling manusiawi—dekat, ramah, dan penuh kasih.
Dari Somagede, sebuah pesan kembali ditegaskan: ketika TNI dan rakyat saling menyapa dengan hati, di sanalah masa depan bangsa diam-diam sedang ditumbuhkan.
(Taufik Hidayat)